Foto Concert

Silent Yellow Ensemble Concert : Bukti Ekspektasi Fake/Faker

“Fake/Faker” menjadi lagu ke-20 dan terakhir yang dibawakan oleh Polyester Embassy pada konser Silent Yellow Ensamble Concert malam itu. Konser yang digadang sebagai konser paling ditunggu tahun terakhir oleh banyak penikmat musik ini pun sukses memuaskan para penggemar setia mereka yang telah hadir sejak pukul tujuh malam.

Foto Concert

Mundur ke tahun 2002 dimana Elang, Tomo, Sidik, Ekky dan Givarie membentuk sebuah band beraliran experimental rock. Jelang tahun ke empat mereka berada dalam satu panggung, sebuah album penuh bertajuk “Tragic Comedy” lahir di tahun 2006. Album yang diproduksi oleh Fast Forward Records berisikan 9 track, berisi lagu lagu yang siap menghantar anda kebelahan dunia paralel. Dalam interview yang pernah diadakan oleh salah satu radio online, Elang mengatakan “ Mungkin syndrom band bandung kali ya, yang terlalu puas saat album pertamanya bagus dan ragu bisa buat album sebagus itu lagi. “ saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan, kenapa album “Fake/Faker” hadir setelah lima tahun berselang. Hasil yang mereka torehkan di album pertama memang sudah pantas menggunakan kata “memuaskan”. Pernyataan barusan bisa disahihkan karena disaat itu belum ada atau mungkin belum terdengar ada band yang seperti itu.

Malam itu cukup berangin dan langit lebih gelap dari pada saatnya, sekumpulan orang menunggu dipintu masuk sambil berbincang bincang. Dago Tea Huis terlihat didekor berwarna merah hitam mencirikan sponsor yang mendanai konser ini. Panitia yang menggunakan baju hitam dengan print seperti desain poster tersebar diseluruh area pintu masuk. Harus menunggu sekitar 30 menit sampai pintu masuk kedalam ruangan yang akan diguncang oleh dua band asal bandung dibuka. Standar pengecekan badan oleh petugas keamanan harus dilalui. Terlihat ada alat alat yang cukup unik disediakan oleh para panita untuk dimainkan oleh para pengunjung di “Lobby” pertunjukan, beberapa orang sibuk mengutak atik alat tersebut, sehingga mengeluarkan suara suara yang unik seperti sampler sampler yang sering digunakan oleh band elektronik.

Pukul sembilan kurang lebih, suara wanita menggaung diseluruh arena pertunjukan dan mengingatkan bahwa konser ini tidak disarankan bagi mereka yang mengidap penyakit epilepsi. Terkesan menggelikan mungkin, tapi hal ini merupakan gambaran bagaimana tata suara dan cahaya akan begitu megahnya sehingga dapat membahayakan penonton yang mengidap penyakit tertentu. Tercatat peringatan serupa pernah lontarkan kepada calon pembeli tiket di salah satu website yang menggelar konser Nine Inch Nail di Negara tetangga dua tahun lalu.

Mengenakan kemeja dan jeans berjalan diatas panggung yang hanya diterangi lampu sorot. Space and Missile yang menjadi band pembuka konser malam itu menyuguhkan musik beraliran Post-Rock. Tata suara dan cahaya pun mulai menghasut alam bawah sadar para pengunjung untuk menggerakan beberapa bagian tubuhnya. 30 menit, mereka menjejalkan sampling drum dan gitar yang menggunakan efek bermacam macam dikepala para penonton. Diawali dan diakhiri dengan “Free” dan “Relieve”, Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut Ishaq Haris Yogaswara selain memperkenalkan tandemnya di Space and Missile, Tintus Hermawan.

Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mempersiapkan kembali alat alat yang akan digunakan oleh sang tuan rumah saat itu. Waktu selama itu mungkin dapat menurunkan tensi telinga yang tak sabar dihujam oleh berbagai suara yang dihasilkan dari speaker besar terpampang di kanan dan kiri panggung bagi beberapa pengunjung.

Lima orang berjalan memasuki panggung pertunjukan, terlihat hanya siluet saja. Riuh tepuk tangan maupun teriakan para penonton mengiringi mereka menempati posisi masing masing personel. Lagu pertama “Tragic Comedy” langsung membuat para penonton malam itu merapat, penuh hingga ada yang berdiri disisi kanan dan kiri panggung. Elang yang menjadi personel terdepan hanya sedikit berucap diawal performa Polyester Embassy, “Selamat datang diruang tamu kami, anggap panggung ini sebuah televisi yang besar” ujarnya dijeda antar lagu.

Tomo yang khas dengan gaya headbanging-nya sembari bermain bass, mewarnai performa kawan kawannya yang lebih terlihat tenang dalam memainkan alat musiknya masing masing, tetapi hal tersebut tidak mengurangi aksi bagusnya band yang satu ini. Tak hanya lagu lagu yang ada di album baru mereka bawakan, terkadang mereka mengajak bernostalgia para penggemarnya dengan “Blue Flashing Light”, “Ruins” dan “You’ll Be Gone”. “Polypanic Room” pun dibawakan serentetan dengan “Air” dan “Later On” dari album anyar. Suasana pun semakin panas, mereka membawakan lagu cover dari M83 “Don’t Save Us From The Flame”. Tampaknya Givarie terlalu cepat menggebuk drumnya, Elang mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk mengulang aksi dilagu itu, “Gapapa, karena ini bukan lagu kita” kelakarnya sejenak. 17 lagu ditambah “White Crimes”, “Space Travel Rock n’ Roll” dan “Fake/Faker” yang menjadi encore dan sekaligus menutup Silent Yellow Ensemble Concert.

Tata cahaya dan visualisasi malam itu pun tidak dapat dipungkiri, menjadi salah satu yang terbaik dalam konser band lokal yang marak muncul beberapa waktu belakangan ini. Selain kemegahan yang digambarkan oleh dua hal diatas, ketepatan meramu venue dengan unsur musik yang dibawakan merupakan faktor yang cukup krusial. Silent Yellow Ensemble Concert adalah salah satu konser band lokal yang menemukan racikan yang tepat.